Secangkir kopi susu yang menit sebelumnya hangat, kini menemaniku dalam kesepian. Sejak segalanya berlalu tanpa berpamit. Sejak hati telah jatuh pada sebuah keingina. Mengharap sesuatu yang tak pasti didapat. Sayang sekali kamu pergi saat itu, saat ini dan selamanya tak kembali, hingga suatu saat ada harapan itu bangkit kembali.
Baik, akan ku dobrak pintu itu.
Aku Raina Asmara, panggil Rain aja. Aku tak suka bila dipanggil asmara. Karena kehidupan asmara ku tak seindah kata asmara itu sendiri.
Jika kau ingin pendapat tentang suatu hal, jangan pernah tanyakan padaku. Tapi biarkan aku yang menceritakan. Seperti saat aku masih memiliknya. Saat aku masih bisa tersenyum karenanya. Tawanya membangkitkan semangatku. Tapi itu dulu, sekarang tidak mungkin. Karena tawanya kini ada pada yang lain.
Haduh. Bisa gagal move on aku. Tapi tak apa yang namanya kenangan pasti dikenang. Bukan begitu sobat. Aku hanya sahabat yang sebatas sahabat. Namun angan ku terlalu tinggi untuk itu. Yah malang kali nasib kau nak. Sudah terlanjur mak.
Awal aku kenal dia saat aku masih SD.
. Dia baik dan pengertian. Haduh wanita mana sih yang gak meleleh hatinya. Tertipu pada saat hati mulai merasakan getaran, mungkin benar jika persahabatan antara laki-laki dan perempuan tak selamanya murni karena sahabat, tapi sering pula didasari rasa yang lain.
Siang waktunya pulang namun aku masih menunggu kakak sepupuku yang masih ada jadwal belajar. Dia datang dan mengajak ku bermain, memang aku tak miliki teman satupun di sini. Dan dia datang menawakan diri untuk menjadi teman.Hingga SMP pun kita masih sering bermain. Aku tidak tahu namanya, ku tahu namanya pada waktu dia dipanggil ke depan untuk di hukum.